Melakukan kontrol ke Rumah Sakit untuk perawatan rutin atau pengobatan menjadi kebutuhan yang cukup penting. Lewat artikel berikut, kami merangkum daftar alamat Rumah Sakit terdekat yang ada di Minahasa Selatan.
Rumah Sakit Rekomendasi di Minahasa Selatan
Rumah Sakit GMIM Kalooran Amurang
Alamat: 5HH9+9X5, Kelurahan Buyungon Lingkungan V, Buyungon, Kec. Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, Indonesia
Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Minahasa Selatan. Sebenarnya sangat strategis bagi masyarakat Minahasa Selatan jika direvitalisasi
✭✭✭✭✭ By Brury Bangun (setahun yang lalu)
Bersih, Dan selalu melayani dgn kasih..
✭✭✭✭✭ By Feiby Manua (5 tahun lalu)
Saat berobat
✭✭✭✭✭ By Kendy Toar (7 tahun lalu)
Lokasi ini tidak begitu strategis untuk rumah sakit pemerintah, bahkan memiliki peralatan medis dan ruang kelas yang baik tetapi tidak banyak pasien rawat inap dalam setahun.
✭✭✭ By Piky Pomantow (4 tahun lalu)
Ketika saya tidak beruntung, mereka membantu saya dengan sepenuh hati untuk kebahagiaan
✭✭✭✭✭ By Iin Brownies (5 tahun lalu)
Rumah Sakit Cantia Tompasobaru
Alamat: Pinaesaan, Minahasa, Tompasobaru, 95257, Pinaesaan, Tomohon, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, Indonesia
Foto salah satu RS di Minahasa Selatan
Dari daftar lengkap rumah sakit diatas, kamu tidak perlu bingung lagi apabila ingin mencari UGD 24 jam dan layanan kesehatan terdekat. Untuk meninggalkan komentar, silakan tambahkan tanggapan kamu pada form yang telah disediakan diatas.
Sekian pembahasan terkait daftar Rumah Sakit rekomendasi di Minahasa Selatan, semoga bermanfaat untuk pembaca sekalian.
Dunia terus bergerak, meninggalkan mereka yang tidak sepakat. Kami percaya bahwa perubahan dalam bisnis adalah satu hal yang niscaya. Karinov.co.id hadir untuk menjadi tempat bertanya seputar ini dan harus ada jawabnya.
5 thoughts on “12 Rumah Sakit Rekomendasi di Minahasa Selatan”
Rumah Sakit GMIM Kalooran (Gereja Masehi Injili di Minahasa). Rumah Sakit yg membawa nama besar sebuah Dedominasi Gereja terbesar di Sulawesi Utara tapi pelayanan kurang mencerminkan pelayanan sebuah Gereja; *Ulasan ini didasari kepentingan pribadi yg tidak terakomodasi jadi bukan berdasarkan penilaian publik sehingga tidak bisa dijadikan referensi publik.
Apakah anggota BPJS PBI APBN Pusat Kelas III yg bersuamikan ASN Anggota BPJS Kelas I tidak berhak mendapatkan pelayanan yang lebih ? ? ?
Saya masuk mengantarkan Istri di UGD hari Jumat pagi Tanggal 28 September 2020 karena ada sudah ada tanda-tanda akan melahirkan, di UGD pasien diperiksa dan kemudian diminta kembali ke Fasilitas Kesehatan Pertama (Puskesmas Amurang Barat) untuk meminta rujukan pemeriksaan ke Poliklinik Kandungan RS Kalooran.
Setelah meminta rujukan di Faskes I, kami kembali ke Poliklinik Kandungan untuk melakukan pemeriksaan, ringkas cerita pemeriksaan selesai lalu kami diminta untuk melakukan pemeriksaan kembali pada hari Senin tanggal 2 Maret 2020, Pukul 10.00 Wita.
Pada Senin Dini hari kami dtng lebih cepat karena Isteri sudah merasa kesakitan dan diterima di UGD lalu masuk ke ruang bersalin. Pada hari yang sama perawat/bidan merekomendasikan untuk mengurus BPJS Kelas I (karena memang di rekam medik, Isteri masih berstatus anggota BPJS PBI APBN Pusat Kelas III). Pada tahap ini semua pelayanan berjalan normal sebagaimana mestinya.
Karena saya sebagai suami tentu berharap setelah proses persalinan selesai, Isteri akan mendapatkan pelayanan kesehatan yg lebih baik di rawat inap kelas I, akhirnya saya mengurus di Loket 2 RS Kalooran untuk peningkatan layanan kelas rawat inap tersebut sambil konfirmasi ke CS BPJS dan Cek Langsung di Aplikasi Mobile BPJS karena seharusnya Isteri mendapatkan layanan kelas I mengikuti suami, tapi perlakuan yang kami terima setelah proses persalinan diluar harapan dan dugaan kami, tanpa konfirmasi sebelumnya pihak rumah sakit melalui bidan/perawat di ruang bersalin memberikan keputusan sepihak bahwa kami harus masuk rawat inap kelas III dengan alasan yang tidak masuk akal “kamar kelas I” FULL,
Apakah manajemen rumah sakit seserampangan itu sehingga pasien yg jelas sudah dikonfirmasi akan dirawat di kelas I, kemudian tiba-tiba berubah kelasnya, karena kamar yang seharunya menjad haknya diserahkan ke pasien lain ? ? ?
Rumah Sakit memang tidak hanya sebatas pelayanan NAMUN juga bisnis “itu sudah rahasia umum”, tapi bukan berarti manajemen rumah sakit harus seserampangan “MANAJEMEN RUMAH SAKIT GEREJA MASEHI INJILI di MINAHASA” dari perspektif pribadi saya. Syalom, Damai tidak di Hati…
Impresi pertama, rumah sakit ini secara pelayanan baik. Tapi secara sistem administrasi sangat buruk. Saya di suruh bolak-balik untuk dokumen yg secara sadar sudah saya kasih ke perawat di kamar perawatan tapi perawatan yg kumpul dokumen dari tiap kamar kekeh kalau dokumen dia masih belum bawa ke loket pembayaran. Sangat disayangkan kalau rumah sakit seperti ini yg membawa nama besar Gmim tapi secara sistem tidak up to date sama sekali dengan perkembangan digital saat ini. Masih aja pakai sistem administrasi manual yang sama sekali merepotkan customer, saya merasa malu rumah sakit yg membawa nama besar GMIM tapi pelayanan rumah sakit sekuler malah lebih maju secara administrasi…
Rumah Sakit GMIM Kalooran (Gereja Masehi Injili di Minahasa). Rumah Sakit yg membawa nama besar sebuah Dedominasi Gereja terbesar di Sulawesi Utara tapi pelayanan kurang mencerminkan pelayanan sebuah Gereja; *Ulasan ini didasari kepentingan pribadi yg tidak terakomodasi jadi bukan berdasarkan penilaian publik sehingga tidak bisa dijadikan referensi publik.
Apakah anggota BPJS PBI APBN Pusat Kelas III yg bersuamikan ASN Anggota BPJS Kelas I tidak berhak mendapatkan pelayanan yang lebih ? ? ?
Saya masuk mengantarkan Istri di UGD hari Jumat pagi Tanggal 28 September 2020 karena ada sudah ada tanda-tanda akan melahirkan, di UGD pasien diperiksa dan kemudian diminta kembali ke Fasilitas Kesehatan Pertama (Puskesmas Amurang Barat) untuk meminta rujukan pemeriksaan ke Poliklinik Kandungan RS Kalooran.
Setelah meminta rujukan di Faskes I, kami kembali ke Poliklinik Kandungan untuk melakukan pemeriksaan, ringkas cerita pemeriksaan selesai lalu kami diminta untuk melakukan pemeriksaan kembali pada hari Senin tanggal 2 Maret 2020, Pukul 10.00 Wita.
Pada Senin Dini hari kami dtng lebih cepat karena Isteri sudah merasa kesakitan dan diterima di UGD lalu masuk ke ruang bersalin. Pada hari yang sama perawat/bidan merekomendasikan untuk mengurus BPJS Kelas I (karena memang di rekam medik, Isteri masih berstatus anggota BPJS PBI APBN Pusat Kelas III). Pada tahap ini semua pelayanan berjalan normal sebagaimana mestinya.
Karena saya sebagai suami tentu berharap setelah proses persalinan selesai, Isteri akan mendapatkan pelayanan kesehatan yg lebih baik di rawat inap kelas I, akhirnya saya mengurus di Loket 2 RS Kalooran untuk peningkatan layanan kelas rawat inap tersebut sambil konfirmasi ke CS BPJS dan Cek Langsung di Aplikasi Mobile BPJS karena seharusnya Isteri mendapatkan layanan kelas I mengikuti suami, tapi perlakuan yang kami terima setelah proses persalinan diluar harapan dan dugaan kami, tanpa konfirmasi sebelumnya pihak rumah sakit melalui bidan/perawat di ruang bersalin memberikan keputusan sepihak bahwa kami harus masuk rawat inap kelas III dengan alasan yang tidak masuk akal “kamar kelas I” FULL,
Apakah manajemen rumah sakit seserampangan itu sehingga pasien yg jelas sudah dikonfirmasi akan dirawat di kelas I, kemudian tiba-tiba berubah kelasnya, karena kamar yang seharunya menjad haknya diserahkan ke pasien lain ? ? ?
Rumah Sakit memang tidak hanya sebatas pelayanan NAMUN juga bisnis “itu sudah rahasia umum”, tapi bukan berarti manajemen rumah sakit harus seserampangan “MANAJEMEN RUMAH SAKIT GEREJA MASEHI INJILI di MINAHASA” dari perspektif pribadi saya. Syalom, Damai tidak di Hati…
Harus lebih maksimal lagi, dan untuk saat ini sudah baik pelayanannya.
Pelayanan dan penanganan baik. Tapi keramahan dan kebersihan sangat kurang
Lewat jam pendaftaran RUJUKAN dari puskesmas tertunda satu hari
Impresi pertama, rumah sakit ini secara pelayanan baik. Tapi secara sistem administrasi sangat buruk. Saya di suruh bolak-balik untuk dokumen yg secara sadar sudah saya kasih ke perawat di kamar perawatan tapi perawatan yg kumpul dokumen dari tiap kamar kekeh kalau dokumen dia masih belum bawa ke loket pembayaran. Sangat disayangkan kalau rumah sakit seperti ini yg membawa nama besar Gmim tapi secara sistem tidak up to date sama sekali dengan perkembangan digital saat ini. Masih aja pakai sistem administrasi manual yang sama sekali merepotkan customer, saya merasa malu rumah sakit yg membawa nama besar GMIM tapi pelayanan rumah sakit sekuler malah lebih maju secara administrasi…